.

MySpace Graphics

Setelah kurayu-rayu, akhirnya Pak Joko berani bercerita..

Setelah kurayu-rayu, akhirnya Pak Joko berani bercerita..

Sudah sebulan lebih saya libur jualan mas, karena di Gunung Kidul baru panen, sehingga saya tidak tahu perkembangan terbaru kampung ini" katanya sambil menghisap rokok tengwe kesukaannya. Malam itu, hujan dari pagi sampai sore belum juga reda. Tidak seperti biasanya sampai jam 21.30 baksoku belum laku seporsipun... wah alamat pulang dengan tangan hampa, kataku sambil mengusap muka dari tetesan air hujan. Dengan agak malas, aku kembali memukuli mangkok baksoku. Pas di pertigaan Kemandungan, kok terdengar suara serak-serak basah "Bakso tiga mangkok, kang...". Meskipun duduk membelakangi, tapi aku tahu persis bahwa itu Pekade, preman kampung yang biasanya sering minta baksoku gratisan... waduh apes nih, dagangan belum laku sudah dipalak, bathinku. Dari pada kena apa-apa, langsung saja kubikinkan tiga mangkok bakso pesenan mas Pekade, setelah racikan siap, langsung dengan tergopoh-gopoh aku mengantarkan pesanan Pekade. Anehnya, meskipun bakso sudah kusodorkan namun Pakade tetap duduk membelakangiku dan tanpa menoleh dia langsung menyantap bakso dengan lahap. Aku agak heran biasanya tingkah mas Pekade ndak karu-karuan bila sedang kumat premannya, entah mengosak asik dagangan baksoku, atau memukuli mangkok bakso sekeras-kerasnya sampai pecah. Tapi malam ini dia diam saja, bahkan cenderung amat diam. Akupun juga ikut diam, sambil terus menghisap rokok tengwe kesukaanku, aku duduk membelakanginya. Nah, tak seberapa lama terdengar suara beratnya "Baksomu kurang garam kang..!" katanya sambil meletakkan mangkuk keras-keras. Aku kaget, dan sepontan berdiri berhadap-hadapan. Betapa kagetnya, melihat Pekade dengan baju berlumuran darah, dan ada tali mengikat lehernya, sementara matanya melotot dengan lidah terjulur... persis korban gantung diri. Mataku langsung berkunang-kunang dan terasa gelap seketika, tahu-tahu aku sudah terbaring di pos dan dirubungi oleh mas Sutris dan teman-teman yang jaga kampung. Dengan terbata-bata aku menceritakan pertemuanku dengan Pekade, dan dari mas Sutrislah aku tahu bahwa Pekade telah seminggu meninggal dunia karena gantung diri di Pakuningratan.

Pantesan tadi malam teman-temanku tidak mau bercerita, karena hampir selama 40 hari arwah gentayangan Pekade menteror kampungku, dan baru reda setelah Kyai Dullah melakukan yasinan selama tujuh hari di rumahnya. Demikian cerita arwah Pekade yang masih minta bakso kesukaannya, sampai ketemu di cerita seram berikutnya

FORM IKLAN

FORM IKLAN BARIS
.ISI FORM DI SINI UNTUK IKLAN ANDA

TYPE IKLAN
NAMA
ALAMAT
NO TLP
JUDUL IKLAN
ISI IKLAN*
ALAMAT Email
Website
Gambar
Image Verification
captcha
Please enter the text from the image:
[Refresh Image][What's This?]
Powered byEMF HTML Form