Masih Doyan Bakso
Dua hari lalu aku mudik, kangen dengan suasana Jogja. Kebetulan, malam jumat lalu giliran adikku jaga kampung, jadilah aku nemanin dia. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, sampailah kami berlima, Pak Gio, Kelik, Sutris dan aku beserta adikku pada pembicaraan yang serem-serem, termasuk pengalamanku ketika masih remaja dulu. Dari Pak Giolah aku tahu, bahwa Pekade.. eh Sukardi salah satu preman kampung yang paling disegani dikampungku, sudah meninggal dunia, bukan karena digebukin orang kampung, atau ditembak polisi, tapi gantung diri... karena hubungannya dengan seorang gadis tidak direstui oleh ibunya, orang tua satu-satunya. Sebetulnya mereka berempat, termasuk adikku agak enggan ketika kutanya tentang sebab-sebab meninggalnya Pekade, bahkan terlihat Kelik duduknya langsung terlihat gelisah, bahkan sekali-kali terlihat Kelik menatap ujung gang dengan wajah agak pucat. Dengan sedikit berbisik, Sutris menatapku serius, "Bung, cerita yang lain saja ya..?", katanya kepadaku. Adikkupun mendukungnya, namun aku tetap ngotot. "Ada apa sih, kalian kayak diuber setan saja..." kataku sambil mengambil tempe goreng kesukaanku. "Bukan begitu bung.." kata sutris menatapku ragu. "Suasana kampung ini lho baru saja pulih..." timpal kelik sambil membetulkan sarungnya. "Pulih dari apa..?", kataku ngotot. "Ya... dari teror hantunya Pekade..." kata adikku sambil menatap lagi ujung gang dengan penuh kekawatiran. Jujur saja aku baru melihat wajah adikku segelisah itu, biasanya anak itu luar biasa beraninya. "Besok pagi saja aku ceritain tuntas..." kata sutris sambil beranjak pergi. "Eh.. tunggu dulu, mau kemana?" kataku. "Tidur, ngantuk nih..." katanya sambil ngeloyor pergi. Tak lama kemudian Kelik pun pamit pulang. Jadilah aku, adikku dan Pak Gio yang jaga kampung sampai pagi.
Siangnya, pukul 11 aku sudah bertandang ke warung sotonya Sutris, penasaran pengin tahu ada peristiwa apa dikampungku pasca meninggalnya Pekade, preman kampung itu. Kebetulan disitu juga ada Pak Joko, tukang bakso langgananku. Sutris yang melihat kedatanganku, langsung berkata "Tanya saja Pak Joko, lebih jelas..!" dengan gayanya yang bikin sebel. Pak Joko yang ditembakpun jadi kecipuhan, "Cerita apa mas..???" katanya sambil minum kopi nasgithelnya. "Itu lho kang, tentang Pekade..?!" kata Sutris kembali menimpali. "Wah.. yang lain saja to Mas Harry, saya lho masih trauma.." katanya sambil nyengir. Waduh gawat nih, mereka berdua saling lempar tangan, tentu ada yang gawat, pantesan tadi malam ibuku agak kawatir ketika kami berdua pamit mau jaga kampung.


